Tips Menghemat Energi

Terimakasih kepada Tuhan karena kita dilahirkan dan hidup di jaman modern seperti ini dimana kita bisa merasakan suasana nyaman dan hampir segala hal bisa dibuat praktis. Hal tersebut dimungkinkan karena energi listrik. Hampir segala kebutuhan kita tergantung oleh listrik yang dapat diubah menjadi energi-energi yang kita butuhkan misalkan cahaya dari lampu, panas dari dispenser, dingin dari AC, suara dari stereo set kita, dan lain sebagainya. Semua energi yang dikeluarkan tentu saja membutuhkan biaya, termasuk juga dengan energi listrik. Setiap bulan kita membayar untuk pemakaian energi listrik bulan yang lalu. Penghitungan pembayarannya berdasarkan tenaga listrik (watt) yang digunakan selama kurang lebih 720 jam dalam satu bulan (30hari x 24jam) atau disebut watthour yang diukur oleh peralatan yang disebut KWh (Kilo Watt hour) meter.

Kiat Menghemat Energi Listrik di Rumah Tangga

Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dan menumbuhkan sikap hemat energi listrik di rumah tangga, antara lain :

Menyambung daya listrik dari PLN sesuai dengan kebutuhan. Rumah Tangga kecil misalnya, cukup dengan daya 450 VA atau 900 VA, rumah tangga sedang cukup dengan daya 900 VA hingga 1300 VA.

Memilih peralatan rumah tangga yang tepat dan sesuai kebutuhan.
Membentuk perilaku anggota rumah tangga yang hemat listrik, seperti: Menyalakan alat-alat listrik hanya saat diperlukan. Menggunakan alat-alat listrik secara bergantian. Menggunakan tenaga listrik untuk menambah pendapatan rumah tangga (produktif).
Memelihara peralatan listrik, sering melakukan pemeriksaan setiap peralatan listrik yang digunakan, karena usia pakai peralatan listrik juga menentukan tinggi rendahnya penggunaan energi listrik.

Langkah-langkah Penggunaan Peralatan Listrik Rumah Tangga Dalam Menghemat Pemakaian Energi Listrik

PENGHEMATAN ENERGI PADA PENERANGAN

  • Padamkan lampu apabila ruangan tidak dipakai.
  • Padamkan lampu pada siang hari.
  • Kurangi penerangan listrik yang berlebihan.
  • Atur letak perabot agar tidak menghalangi cahaya lampu dalam ruangan.
  • Menyalakan lampu halaman/taman bila hari benar-benar telah mulai gelap.
  • Matikan lampu halaman/taman bila hari sudah mulai terang kembali.


PENGHEMATAN ENERGI PADA TATA UDARA

  • Memilih AC hemat energi dan daya yang sesuai dengan besarnya ruangan.
  • Gunakan kapasitas AC yang tepat dan efisien.
  • Gunakan pengatur waktu (timer) agar AC beroperasi hanya pada saat dibutuhkan.
  • Kontrol temperature dengan termostat.
  • Gunakan penutup pada bagian ruangan yang terkena sinar matahari langsung.
  • Usahakan pintu, jendela dan ventilasi udara selalu tertutup agar kelembaban cukup rendah.
  • Hindari menempatkan sesuatu yang menghalangi sirkulasi udara.
  • Bersihkan filter AC, coil kondensor dan sirip AC secara teratur.
  • Mengatur suhu ruangan secukupnya, tidak menyetel AC terlalu dingin.
  • Menempatkan AC sejauh mungkin dari sinar matahari langsung, agar efek pendingin tidak berkurang.
  • Matikan AC bila ruangan kosong dalam jangka waktu relatif lama.


PENGHEMATAN ENERGI PADA POMPA AIR

  • Gunakan bak penampungan air (menyimpan air di posisi atas).
  • Gunakan pelampung air di penampungan.
  • Gunakan air secara hemat dan cegah kebocoran air pada kran dan pipa.
  • Sering terjadi pompa bekerja terus menerus, padahal tidak ada pemakaian. Penyebabnya adalah sebagai berikut :
  1. Relay tekanan ( pressure switch ) tidak bekerja.
  2. Instalasi pipa air di dalam bangunan ada yang bocor.
  3. Kran air tidak ditutup sempurna atau rusak.


PENGHEMATAN ENERGI PADA MESIN CUCI

  • Menggunakan mesin cuci sesuai dengan kapasitas.
  • Kapasitas berlebih mengakibatkan perlambatan perputaran mesin dan menambah beban pemakaian listrik.
  • Kapasitas yang kurang menyebabkan tidak efisien, karena mesin cuci tersebut menggunakan energi yang sama.
  • Gunakan pengering hanya pada cuaca mendung/hujan. Bila cuaca cerah, sebaiknya memanfaatkan sinar matahari.


PENGHEMATAN ENERGI PADA LEMARI PENDINGIN

  • Memilih lemari es dengan ukuran / kapasitas yang sesuai.
  • Pintu lemari es ketika menutup harus selalu tertutup rapat.
  • Isi lemari es harus sesuai dengan kapasitas (Jangan terlalu sesak).
  • Tempatkan lemari es jauh dari sumber panas (kompor, sinar matahari langsung).
  • Tempatkan lemari es min. 15 cm dari tembok, agar sirkulasi udara ke kondensor baik.
  • Hindari penempatan bahan makanan / minuman yang masih terlalu panas.
  • Mengatur suhu lemari es sesuai kebutuhan. Karena semakin rendah temperatur ,semakin banyak energi listrik yang digunakan.
  • Ganti karet isolasi pada pintu / kabinet secepatnya apabila rusak.
  • Membersihkan kondensor ( terletak dibelakang lemari es ) secara teratur dari debu dan kotoran, agar proses pelepasan panas berjalan dengan baik.
  • Mematikan lemari es bila tidak digunakan dalam waktu lama.


PENGHEMATAN ENERGI PADA SETRIKA

  • Atur penggunaan tingkat panas yang disesuaikan dengan bahan yang diseterika (sutera, wol, polyster, katun dan sebagainya).
  • Bersihkan sisi besi bagian bawah seterika secara teratur agar penghantaran panas berlangsung baik
  • Menyeterika sekaligus banyak jangan hanya satu atau dua potong pakaian.
  • Mematikan seterika bila akan ditinggal cukup lama.


PENGHEMATAN ENERGI LAINNYA

  • Kurangi pemakaian listrik pada waktu beban puncak pada jam 18.00 – 22.00.
  • Gunakan Peralatan Listrik Hemat EnergiMatikan magic-jar atau magic-com bila nasi sudah tersisa sedikit karena listrik untuk menghangatkan nasi menjadi sia-sia.
  • Mematikan televisi, radio, tape recorder, serta perlatan audio visual lainnya, bila tidak ditonton atau didengarkan.
  • Lepaskan kabel peralatan listrik bila peralatan sedang tidak digunakan.
  • Bila peralatan listrik yang menggunakan sistem remote sedang tidak digunakan, jangan mematikan dengan remote control (stand by). Tetapi matikan dari tombol on-off atau lepaskan tusuk kontak.
  • Nyalakan water heater 20 menit sebelum air panas digunakan
  • Bersihkan secara periodik kaca jendela. Kaca jendela yang bersih akan meneruskan cahaya lebih banyak.
  • Bersihkan secara periodik bola lampu / tabung lampu beserta reflektornya agar supaya bersih agar tidak mengurangi cahaya.


Sumber : PT PLN Distribusi Bali

Lampu Halogen


Lampu halogen diperkenalkan ke publik pada tahun 1959. Lampu halogen pada dasarnya adalah lampu pijar yang diperbaiki prosesnya. Isi di dalam tabungnya selain filamen wolfram, ada juga material berupa gas dan unsur halogen yang menjaga bola lampu bersih dan keluaran cahayanya tetap konstan. Fungsi utama halogen dalam lampu adalah untuk mengembalikan wolfram yang menguap ke permukaan filamen melalui pemanasan dengan temperatur tinggi. Proses daur ulang ini memperpanjang umur dari filamen wolfram dan membuat lampu halogen menghasilkan cahaya lebih terang. Suhu bola lampu jenis halogen ini umumnya lebih panas daripada lampu pijar biasa.
Pengaplikasian lampu halogen pada rumah tinggal, umumnya digunakan lampu medium yang membutuhkan voltase berkisar antara 300 volt sampai 12 volt. Bagus digunakan untuk lampu sorot karena sangat fokus sinarnya seperti dibutuhkan pada lukisan da sebagainya.Dapat digunakan dengan dimmer system, namun sangat rentan apabila digunakan dengan frekuensi on-off yang tinggi atau sering hidup-mati.
Lampu halogen berada di antara lampu pijar dan lampu flourescent dalam hal efisiensi energi. Hal ini dikarenakan lampu halogen menggunakan filamen wolfram dengan halogen sehingga lebih hemat daripada lampu pijar tapi tidak lebih hemat dari lampu flourescent.Umur lampu halogen jenis medium sekitar 2 tahun untuk pemakaian 4 jam sehari.

Lampu

Lampu adalah sumber cahaya buatan untuk penerangan. Bola lampu dan jenis-jenis lampu terus berevolusi sampai sekarang. Jenisnya sangat banyak sekali diantaranya lampu flourescent, lampu pijar, lampu halogen, lampu LED, dll.

Pemilihan Lampu memerlukan suatu analisa. Spesifikasi meliputi tenaga lampu ( jumlah watt), usia lampu, panjang fisik lampu, temperatur warna dari cahaya yang dipancarkan. Beberapa lampu ada tersedia dengan corak tambahan seperti disain ringkas, reflektor, kawat pijar ganda, tahan banting, dan bahkan dengan pendingin air. tambahan-tambahan seperti ini hanya disediakan oleh produsen lampu tertentu.

Lampu pijar
Awal mula lampu adalah bola lampu pijar yang diperkenalkan kepada publik pada 30 Desember 1879 oleh Thomas Alva Edison.
Lampu pijar adalah sumber cahaya buatan yang dihasilkan melalui penyaluran arus listrik pada filamen yang kemudian membara. Kaca yang menyelubungi filamen itu, untuk menghindari kerusakan filamen akibat oksidasi yang ditimbulkan oleh oksigen (wiki).
Bola lampu dengan filamen wolfram yang berpijar, sampai sekarang masih diproduksi dan masih juga digunakan. Meskipun jenis lampu ini mulai ditinggalkan dengan alasan membutuhkan tenaga listrik yang lebih besar untuk mencapai tingkat ke-terang-an cahayanya jika dibandingkan dengan jenis lampu lain seperti flourescent, atau LED.
Penyebab yang lain yaitu, jenis lampu ini semakin besar daya (watt) nya, maka semakin tinggi pula panas yang ditimbulkannya. Hal ini disebabkan oleh filamen yang menghasilkan cahaya pada intinya adalah kawat yang membara. Jadi semakin besar filamen nya, semakin terang lampunya, dan semakin besar konsumsi dayanya.
Bahkan menurut inilah.com lampu pijar punah 5 tahun lagi. Sedikit inti beritanya sebagai berikut:
Pasar lampu pijar semakin merosot hingga tinggal 10% saja dan akan terus turun secara signifikan 2 sampai 3 tahun mendatang. Asosiasi Industri Perlampuan Listrik Indonesia mencatat produsen lampu pijar nasional mengalihkan produksinya ke pasar ekspor karena permintaan dalam negeri yang terus menurun. Produk-produk lampu pijar ini akan diekspor ke Timur Tengah karena wilayah tersebut tidak mengalami masalah krisis energi.

Mengenal Peralatan Listrik di Rumah (bagian 2)

Electrical socket outlet (Stop Kontak / Kotak Kontak) Alat yang satu ini berfungsi untuk menyediakan power listrik untuk berbagai macam keperluan perkakas elektronik atau alat yang menggunakan listrik. Batas maksimal arus yang dapat dilewatkan yakni dalam kisaran 10A. Untuk menghubungkannya kita membutuhkan plug atau tusuk kontak yang sesuai dengan jenis dan ukuran socket outlet tersebut. Di Indonesia socket outlet untuk instalasi rumah tinggal menggunakan 2 kontak phasa dan netral, ditambah 2 kontak ground. Pemasangan plug / tusuk kontak harus benar-benar rapat dan kuat agar tidak menimbulkan panas dan kebakaran. Oleh karena itu, tusuk kontak hendaknya disesuaikan dengan outlet yang terpasang dan lengkap dengan ground untuk peralatan yang berbahan metal seperti kulkas, pompa-pompa, computer, dsb. Mengenai pemasangan, socket outlet dapat dipasang di dinding, di meja , atau di lantai. Spesial untuk socket outlet lantai harus menggunakan socket outlet lantai khusus, dan untuk pemakaian outdoor atau di luar ruangan harus menggunakan socket outlet yang berpelindung (lubang kontaknya tertutup). Untuk pemasangan di dinding dengan ukuran sekurang-kurangnya 30 cm dari permukaan lantai. Tips lain mengenai pemakaian outlet hendaknya satu socket outlet hanya untuk satu tusuk kontak, dan hindari pemakaian tusuk kontak yang bertumpuk. Karena tusuk kontak yang bertumpuk sangat riskan menimbulkan panas karena kendur atau kurang pas dengan lubang socket outletnya. Satu lagi, jangan menggunakan roll cable atau extention cable dalam jarak dekat untuk pemakaian dengan waktu yang lama. Karena kabel menggulung yang mengalirkan arus listrik akan menimbulkan panas dan lama kelamaan kabel tersebut terbakar.

Switch (Saklar)

Alat ini digunakan untuk memutuskan jaringan listrik, atau untuk menghubungkannya. Jadi saklar pada dasarnya adalah alat penyambung atau pemutus aliran listrik. Di dalam instalasi rumah biasa digunakan untuk mengoperasikan lampu-lampu, kipas angin, dan lain-lain. Secara sederhana, saklar terdiri dari dua bilah logam yang menempel pada suatu rangkaian, dan bisa terhubung atau terpisah sesuai dengan keadaan sambung (on) atau putus (off) dalam rangkaian itu. Material kontak sambungan umumnya dipilih agar supaya tahan terhadap korosi. Jenis-jenis switch yang biasa digunakan di rumah dibedakan dari jumlah gang atau tuasnya. Ada yang single (satu tuas) untuk melayani satu rangkaian lampu, double (dua tuas) untuk melayani dua rangkaian lampu, dan seterusnya. Switch biasa dipasang di dinding dan letaknya tidak begitu jauh dari pintu suatu ruangan dan tidak tertutup benda apapun. Sehingga memudahkan jangkauan pengoperasian ketika akan memasuki atau meninggalkan ruangan. Ukuran pemasangan sekitar 140-150cm dari permukaan lantai. Sedangkan batas arus yang dapat dilayani oleh satu switch tidak lebih dari 10 Ampere.

Mengenal Peralatan Listrik di Rumah

Ada baiknya kita mengenal peralatan listrik yang ada di rumah kita. Tujuannya adalah agar kita dapat memahami dan mengenal peralatan tersebut dari namanya, kegunaannya, syukur-syukur cara memperbaiki atau penanganan kalau terjadi gangguan pada peralatan tersebut. Tujuan yang lain adalah kalau kita mengenal minimal tahu namanya dari peralatan listrik itu, suatu saat apabila ada masalah misalnya kita harus memanggil orang atau teknisi untuk memperbaiki kita dapat langsung dengan cepat menyebutkan permasalahannya. Contoh lain yaitu ketika kita harus mengganti sendiri (kalau bisa), dan membeli di toko kita tidak perlu lama-lama menjelaskan kepada pelayan toko nama peralatan yang hendak kita beli. Satu lagi, pada suatu ketika kita sedang membangun rumah atau mengganti instalasi rumah kita kita bisa memeriksa peralatan atau material listrik yang akan dipasang sudah sesuai standar atau belum.

Mengenai standar, di Indonesia ada badan standar nasional (BSN), Lembaga Masalah Kelistrikan (LMK), dan Standar Nasional Indonesia (SNI). Peralatan listrik yang akan digunakan untuk instalasi harus memenuhi ketentuan Peraturan Umum instalasi Listrik (PUIL) *ayat 202 A2. Standarisasi peralatan yang ditetapkan oleh badan-badan standar tersebut sebagian besar juga berdasar pada standar internasional. PLN sendiri telah menetapkan standar dengan melakukan survey lapangan langsung dan mengeluarkan semacam sertifikasi untuk setiap pemasangan instalasi rumah baru.

Baiklah kita mulai langsung pembahasannya

1. Kabel Listrik
Untuk instalasi rumah tinggal menurut ukuran biasa menggunakan kabel berpenampang 2,5mm2 untuk power outlet (stop kontak). Kemudian untuk instalasi lampu-lampu menggunakan kabel berpenampang 1,5mm2 .
Kabel yang sering dipakai untuk instalasi rumah tinggal jenisnya antara lain:

  • NYA (Berisolasi PVC penghantar tembaga kawat tunggal)

Kabel ini biasa dipakai untuk instalasi berpipa (conduit) dan harus menggunakan pipa karena isolasinya tunggal (satu lapisan). Tidak baik digunakan untuk instalasi outdoor misal: lampu taman.

  • NYM (Berisolasi PVC berselubung karet penghantar tembaga kawat tunggal)

Warna isolasi terluarnya adalah putih. Tersedia dalam berbagai ukuran yang menentukan jumlah kawat di dalamnya contohnya : 2×1,5mm2, 2×2,5mm2, 3×1,5mm2, 4×2,5mm2 dan lain-lain. Yang menentukan jumlah kawat di dalam kabel adalah angka di depan “x”. Misal 2×1,5mm2 berarti 2 kawat masing-masing berukuran penampang 1,5mm2. Penghantar tembaga kawat tunggal, namun untuk penampang di atas 16mm2 penghantarnya berupa beberapa kawat yang dipilin menjadi satu.
Kabel jenis ini bisa digunakan untuk instalasi dalam rumah tanpa pipa kecuali ditanam dalam tembok. Untuk instalasi dalam tembok harus tetap menggunakan pipa conduit.

  • NYY (Berisolasi PVC berselubung PVC penghantar tembaga kawat tunggal)

Warna isolasi terluarnya hitam. Seperti NYM, kabel ini juga dalam berbagai ukuran penampang dan jumlah kawatnya.
Kabel ini bisa digunakan untuk instalasi indoor maupun outdoor tanpa pipa sekalipun (apabila terpaksa) karena isolasi kabel jenis ini kuat menghadapi berbagai cuaca (
weatherproof). Satu lagi, kabel NYY ini harganya lebih mahal dari jenis-jenis kabel sebelumnya :).

2. KWh (Kilo Watt Hour) meter
Peralatan ini milik PLN dan disegel, gunanya untuk mengukur beban yang dipakai. Berada di luar rumah agar memudahkan petugas pencatat setiap bulannya melakukan pencatatan meter Kwh. Alat ini dilengkapi pembatas arus (
current limiter) berupa MCB yang juga disegel. Tujuan dipasang MCB ini adalah membatasi pemakaian sesuai dengan batas beban saat pertama registrasi atau pemasangan listrik misal 2A untuk daya 450VA, 4A untuk daya 900VA, 6A untuk daya 1300VA, dan sebagainya.

3. Pemutus Beban (Fuse / Sekring)
Alat ini adanya setelah Kwh meter milik PLN. Untuk pengaman arus lebih instalasi rumah, digunakan fuse atau sekring atau patron lebur yang apabila terjadi
short (konslet) pada instalasi akan putus dan harus diganti dengan yang baru. Kemudian agar tidak setiap putus ganti baru yang artinya keluar duit lagi untuk beli, maka ada sekring otomatis yang bekerja dengan bimetal dan ada tombol resetnya. Jadi setiap terjadi masalah dalam instalasi, sekring otomatis akan memutuskan arus kemudian untuk mengembalikannya tidak perlu membeli yang baru (kalau tidak rusak) cukup tekan tombol dan listrik di rumah hidup lagi.
Sekring dengan berbagai ukuran yang biasa digunakan untuk instalasi rumah yaitu 2A, 4A, 6A, dan 10A.
Namun sekarang, alat ini mulai ditinggalkan dan digeser oleh MCB karena alasan keamanan (socketnya ulir sering rusak yang menimbulkan panas dan kebakaran) dan kepraktisannya (karena bimetal, setiap memutus beban karena panas sehingga harus menunggu beberapa saat untuk menghidupkannya kembali).

4. Miniatur Circuit Breaker (MCB)
Alat yang berfungsi untuk memutus hubungan listrik bekerja secara otomatis apabila ada arus atau beban lebih (melebihi kapasitas nomilan MCB tsb). Hal ini termasuk juga apabila terjadi short circuit atau hubung pendek atau konslet karena pada saat terjadi short, arus listrik akan melonjak naik. Sebagai pembatas beban, MCB dipasang bersama KWH meter dan disegel oleh PLN biasanya bertuas warna biru. Sedang untuk pengaman instalasi listrik di dalam alat ini bertugas menggantikan sekring biasanya warna hitam pada tuasnya. Untuk pengoperasiannya sangat sederhana yakni menggunakan tuas naik (
on) dan turun (off).
Ukuran MCB sama seperti sekring ada 2Ampere, 4A, 6A, 10A, 16A, 20A, dst. MCB terdapat berbagai jenis untuk berbagai macam kebutuhan pemutusan arus listrik. Menurut phasa, ada 1phasa, 2phasa, 3phasa, dan menurut jenis peralatan yang akan diproteksi misal: instalasi motor 3phasa, instalasi tenaga, dll masing-masing berbeda jenis dan ratingnya.

Bersambung…

Lilin atau Emergency Lamps?

Di Indonesia, kita akan sering berjumpa dengan saat-saat yang gelap. Yaitu saat listrik padam. Entah mendadak ataupun direncanakan oleh PLN dengan pemberitahuan. Apalagi musim penghujan atau mendekati puasa dan lebaran. Alasan dari PLN mungkin tidak lebih dari gangguan atau perbaikan pelayanan jaringan.

Kalaupun pemadaman itu sudah direncanakan, persiapan yang kita lakukan kadang masih saja kurang. Misalkan saja, lilin sudah siap di meja berdekatan dengan korek apinya sehingga mudah dijangkau, atau sudah charging lampu emergency seharian, tetapi ada pula yang terlupa dan disadari ketika sudah terjadi pemadaman. Sudahkah mengisi air di bak tampungan, atau kamar mandi? Dan masih cukupkah? Baik, ini Cuma mengingatkan saja dan pembahasan kita hanya pada lampu emergency.

Ketika mati listrik malam hari (tentu saja, kalau siang tidak begitu perlu menyalakan lampu kan..) pertama kali yang dicari adalah lampu darurat. Bisa berupa lapu teplok, lilin, senter (flash light), atau lampu emergency. Nah mana yang anda pilih? Dan apa yang biasanya anda punya di rumah?

Lampu teplok. Sangat sederhana, mengingatkan saya pada waktu masih SD ketika belum ada Listrik Masuk Desa. Namun saat ini sudah jarang dijumpai karena bahan bakarnya sudah langka (minyak tanah). Jadi tidak usah dibahas hehe…

Liin sangat mudah kita temukan (dibeli) di warung-warung dekat rumah. Harganya murah. Penggunaannya sangat mudah, sekali habis ya sudah. Cuma sedikit kelebihannya. Tapi seperti peralatan-peralatan lainnya, hindarkan dari jangkauan anak-anak. Coba anda ingat berita-berita kebakaran yang sering terjadi tidak sedikit yang sumbernya adalah dari api lilin saat sedang mati listrik. Kadang-kadang adalah karena kecerobohan menyalakan lilin dan diletakkan di tempat-tempat yang rawan atau mudah terbakar misalnya di kusen jendela dekat dengan tirai, di meja dengan taplak kain ataupun plastik, di kursi, bahkan belum lama ini tetangga saya juga terbakar toiletnya karena lilin yang diletakkan di atasnya habis dan membakar tutup kloset yang terbuat dari plastik. Jadi perhatikan kalau menyalakan lilin, tempatkan di tempat-tempat yang kemungkinan terbakarnya sedikit. Misalnya letakkan saja di lantai, atau buatkan tempat yang tidak mudah terbakar atau meleleh seperti logam, atau piring keramik.

Lampu Emergency sangat aman digunakan. Lampu yang belakangan ini sudah sangat banyak dijual di took-toko peralatan listrik, bahkan di supermarket sangat mudah dijumpai. Harganya sudah mulai bersaing dengan banyaknya merk yang ada di pasaran kira-kira 50ribu saja sudah bisa bawa pulang lampu emergency yang standar. Kalau harga dan merk tentu kita sudah paham apa perbandingannya ya. Kemudian yang diperhatikan saat memilih lampu emergency adalah yang pertama yaitu jenis lampu yang digunakan, baterai atau tenaga cadangannya jenis apa. Jenis lampu emergency sekarang menggunakan baterai dengan jenis yang bermacam-macam dan keunggulannya rata-rata sama yaitu free maintenance (bebas perawatan). Kemudian lampu yang digunakan pada lampu emergency tersebut, check dan tanyakan jenisnya apakah lampu halogen, flouressent , bulb, atau LED. Kalau lampunya menggunakan halogen, menurut pengalaman saya lampu tersebut sangat boros tenaga dan juga panas. Untuk jenis lampu selanjutnya boleh dipilih dan check wattage nya, tetapi yang paling hemat listrik atau baterai ya LED (Light Emiting Dioda). Jenis lampu ini tidak menimbulkan panas berlebih, dengan daya sekitar 5 watt setara terangnya dengan lampu biasa 40watt. Kemudian juga dimensi dan desain produk itu bisa ditempatkan seperti apa, apakah digantung, ditempel, dan sebagainya.

Dari serangkaian tulisan ini mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua. Yang jelas, perhatikan keselamatan anda, keluarga, dan lingkungan anda.